30 Maret 2010

Mendidik Anak TANPA Kekerasan

Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua? Apa musti dipukul dulu baru nurut?”. Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan?”. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.

Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya:

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata ”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00!!!

Dengan gelisah ayah menanyai saya ”Kenapa kau terlambat?”. Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi? Ya bisa saja! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.

Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.

Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya (baby sitter)? Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.

Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab”? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap?

Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi?

Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.

Wish you become the best parents in the world !

Mengatasi Emosi Negatif Anak

Pernahkah anak Anda mengalami stres atau emosi negatif? Apakah itu normal? Bagaimana kita membantu mereka mengatasinya?

Stres adalah suatu hal yang normal yang merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat terelakkan. Stres mempengaruhi setiap orang, bahkan anak-anak sekalipun. Seorang anak pra-taman kanak-kanak menjadi stres saat jadwal day-care nya diubah. Seorang anak SD menjadi sedih ketika dia tidak dapat mengerjakan tes aritmatika dengan baik. Seorang pra remaja khawatir akan perubahan tubuhnya. Dan seorang remaja merasakan stres saat dia mencoba untuk menetapkan apa yang akan dilakukan dalam hidupnya.

Orang tua dapat mengurangi stres / emosi negatif yang dirasakan anak-anak dan mengajarkan mereka untuk mengatasi situasi yang sangat stres. Sangatlah penting untuk diingat bahwa stres adalah bagian alami dari kehidupan anak-anak. Stres hanya akan menjadi membahayakan ketika masalah-masalah dan pertengkaran-pertengkaran dari kehidupan sehari-hari membanjiri anak anda.

Anak-anak dari segala usia merasakan stres ketika seorang adik bayi baru datang, perpindahan keluarga, sebuah perceraian atau pernikahan kembali dari orangtuanya atau ketika keluarga dalam tekanan hal keuangan. Ketika kita sendiri dalam keadaan stres, yakinlah untuk mengambil waktu yang tepat untuk menjelaskan situasi kepada anak-anak. Seorang anak yang tidak mengerti situasinya sering membayangkan hal-hal yang buruk. Ingatlah bahwa anak-anak belajar dari orangtuanya. Orangtua adalah orang yang paling kuat, yang perfeksionis atau pemecah masalah yang berat yang cenderung memberikan sifat-sifat ini pada anak-anak mereka.

Akhirnya, terlalu stres juga bisa menjadi gangguan. Kita perlu mengenali tanda-tanda dari stres yang berlebihan sehingga bisa mendapatkan bantuan untuk anak. Mencari bantuan mungkin semudah membicarakan akan situasinya kepada seorang teman, anggota keluarga atau kepala sekolah. Seseorang yang tidak asing dengan situasi keluarga kita mungkin dapat memberikan beberapa jalan keluar, nasehat yang berguna. Bila situasinya ekstrem, kita mungkin perlu untuk membicarakan dengan dokter keluarga, ahli-ahli jiwa atau bimbingan konseling sekolah, atau orang-orang profesional di bidang ini.

Membantu anak pra-sekolah mengatasi stres
Kebutuhan anak-anak pra-sekolah adalah mendapatkan rasa cinta, ketentraman hati dan dukungan. Mereka mempunyai sedikit penguasaan dalam kehidupan mereka sendiri dan terlalu muda untuk menggunakan kemampuan memecahkan masalah dengan baik pada situasi-situasi tertentu. Situasi stres yang umum meliputi: memulai atau perubahan jadwal day-care, memulai pra-sekolah, kedatangan seorang bayi baru atau anggota keluarga, terpisahkan dari orang tua, didisiplinkan dan toilet training. Anak-anak pra sekolah juga khawatir akan ditinggalkan atau kelaparan dan mereka mungkin menjadi takut akan orang-orang asing. Selain itu hal-hal yang menakutkan, rasa sakit dan juga hal-hal yang tidak diketahui akan membuat stres.

Tanda-tanda bahwa anak pra sekolah kita mengalami tekanan mental yang melebihi kekuatannya adalah : lebih lekas marah, mengalami teror malam atau mimpi buruk, lebih sering bertingkah laku kasar, menjadi lebih keras kepala atau menuntut atau bahkan menangis lebih sering dari biasanya.

Apa yang dapat kita lakukan? Bantulah anak kita untuk mengerti situasi. Jelaskan apa yang akan terjadi dengan cara yang mudah dimengerti dan bahasa yang menenangkan hati. Berikanlah keberanian pada anak untuk membicarakan ketakutannya. Dia perlu untuk belajar mengatakan hal-hal seperti, “saya tidak menyukainya bila anjing tetangga menyalak,” atau “saya takut masuk ke dalam ruang yang gelap”

Jangan katakan pada anak kita bahwa ketakutannya adalah suatu hal yang konyol, ketakutannya sangatlah nyata bagi dia. Jangan pernah katakan “Ah, begitu saja kok takut, dasar anak cengeng!” Kurangilah tekanannya dengan menawarkan pengertian, dukungan dan banyak kasih sayang. Genggaman dan bimbingan pada seorang anak akan membantunya mengurangi stres. Akhirnya kita dapat menambah rasa aman anak kita dengan tetap tenang pada saat masa sulit.

Kapankah anda mencari bantuan? Ketika kita tidak berhasil dalam segala usaha untuk membantu anak kita, atau ketika masalah terlalu banyak untuk kita sendiri yang harus diselesaikan, carilah bantuan profesional. Jangan ragu untuk meminta nasehat.

Membantu anak usia sekolah (6 sampai 12 tahun )
Hidup menjadi berat untuk seorang anak usia antara 6 dan 12 tahun. Seorang anak harus menghadapi tekanan di rumah dan belajar untuk mengatasi dunia yang lebih luas yang melibatkan sekolah dan teman-temannya.

Situasi yang bisa membuat mereka stres : mempunyai nama yang tak biasa, mengerjakan tes di sekolah, merasa lambat, jelek atau pintar, menjadi tertekan untuk mendapatkan nilai yang bagus, berteman dengan teman baru, merasa cemburu, bersaing dalam permainan dengan saudara perempuan atau laki-laki, beradu argumen dengan orangtua atau teman-teman, tidak dapat bekerjasama dengan seorang guru,menjadi cemoohan ,mengkhawatirkan tentang perubahan badan, menjadi malu, mempunyai banyak tugas, dan dikeluarkan dari kegiatan –kegiatan dan teman-teman.

Tanda-tanda untuk mengenali stres pada anak kita : dia mungkin menarik diri, mengalami kemunduran, dan bertingkah seperti seorang anak yang lebih muda dari usianya, mengompol, memiliki masalah tidur, menggertakkan giginya, atau memiliki masalah bicara. Anak-anak dalam pengaruh stres juga bisa terlihat berpikir dan bergerak lambat. Tanda-tanda yang lain termasuk: kesulitan di sekolah, mencuri, berbohong, curang, sedih, menangis, bertengkar, sering terjatuh, dan kecelakaan.

Apa yang dapat kita lakukan? Anak-anak yang sangat baik dalam mengatasi stres adalah yang mendapat dukungan dan pengertian dari orangtua. Orantua yang baik akan selalu ada untuk anaknya pada saat dibutuhkan. Cobalah untuk mengerti apa yang dialaminya. Dukunglah dia untuk membicarakan masalahnya lagi, dan bantulah dia untuk mengatasi masalahnya. Anak kita memang mulai mengembangkan beberapa kemampuan dalam mengatasi masalah namun dia tetap memerlukan bantuan dalam hal ini.

Saya sering menjumpai bahwa orangtua sering menambah tekanan pada kehidupan anak mereka dengan menekannya terlalu keras melalui target-target. Bila masalah-masalah berputar sekitar sekolah, duduk dan bekerjasama dengan guru anak kita untuk membuat tujuan yang realistis dan standarisasi untuk mencapai prestasi. Masalahnya bukan hanya dalam hal akademik. Terkadang anak-anak terlibat dalam banyak kegiatan yang berbeda atau mempunyai banyak sekali tugas di rumah. Kita bisa memberikan lebih banyak kasih sayang, persetujuan dan penguatan yang positif pada mereka. Dengarkan dan bantulah mereka untuk mengatur stres dalam hidupnya.

Kapankah kita seharusnya mencari bantuan? Ketika masalahnya diluar keahlian mendidik anak yang kita miliki, itulah saat mencari bantuan. Bisa juga ini dijadikan momentum yang tepat untuk memperkenalkan anak konsep “dewan keluarga”. Dewan keluarga mengijinkan sebuah keluarga untuk berdiskusi tentang sebuah pokok permasalahan. Kepemimpinan diputar dan anak-anak mempunyai peran yang sama dalam pertemuan. Keluarga tersebut bersama-sama mencari jalan keluar atas masalah-masalah tersebut. Ini adalah sebuah latihan kepemimpinan yang bagus.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

Membuat Anak Ketagihan Belajar










Seorang ibu mengeluh pada temannya “Aduh gimana nih, nilai anakku kok merosot terus dari hari ke hari?” sementara temannya juga mengatakan hal yang mirip “Ia susah banget ya memotivasi anak-anak kita untuk suka belajar, kalau main game saja yang gak perlu diminta?”

Satu ibu lagi datang dengan muka yang tak kalah masamnya mengatakan “Kalau anakku sih masalahnya lain lagi, ia bisa belajar sih kalau sudah waktunya walau agak cemberut, tapi herannya ya mengapa sewaktu di rumah bersama guru lesnya mengerjakan latihan bisa tapi kok waktu tes hasilnya jelek lagi jelek lagi”.

Apakah Anda sering mengalami hal-hal seperti itu? Mengapa belajar menjadi sesuatu yang berat – bahkan momok bagi sebagian anak – dan rasanya tak menyenangkan bagi sebagian besar anak-anak kita? Banyak orangtua dan guru meyakini bahwa anak-anak itu sebenarnya tidak bodoh dan harusnya bisa mendapatkan nilai bagus tetapi mengapa belajar jadi begitu berat dan menyusahkan?

Sebagai seorang hipnoterapis keluarga saya sering mendapatkan keluhan semacam di atas dari para orangtua. Jika menyangkut anak-anak maka sebagian masalah yang hendak dikonsultasikan adalah motivasi dan inisiatif belajar. Secara pribadi saya mendalami masalah ini sejak 1995 saat berkutat dengan puluhan anak dari SD hingga SMU setiap sore untuk membantu mereka memecahkan masalah pelajarannya di sekolah. Saya pun meyakini bahwa semua anak-anak itu memiliki otak yang encer sampai-sampai saya khawatir karena encernya otak itu bisa meleleh keluar melalui hidung dan telinganya!

Apa yang saya dapatkan dari pengalaman membantu anak-anak tersebut sebenarnya telah saya tuangkan dalam sebuah kursus yang diberi nama Mathemagics – yang telah tersebar di berbagai kota besar di Indonesia termasuk juga di Jakarta. Namun demikian banyak orangtua yang tetap berusaha mencari saya untuk mengajari anaknya dan menerapi mereka secara langsung.

Sebenarnya permasalahan yang ada tidaklah terlalu rumit jika kita mau sedikit melihat dan merasakan apa yang dirasakan anak-anak kita. Setiap anak yang normal tentu juga ingin nilai akademiknya bagus. Tak ada seorang anakpun yang ingin nilainya jelek dan mengikuti remidi berkali-kali.

Justru sikap kita sebagai orangtua yang terkadang kurang mendukung dengan membuat situasi hati anak kita menjadi makin keruh dan tidak kondusif untuk mencapai prestasi bagus di sekolahnya.

Salah satu hal penting dan mendasar adalah rasa aman. Rasa aman mendasari motivasi setiap anak bahkan setiap orang dewasa. Dengan rasa aman inilah kita akan memiliki motivasi. Jangan mengharapkan adanya motivasi jika rasa aman tak terpenuhi.

Sebagai pendiri kursus Mathemagics saya sering meminta pengelola kursus bahkan juga instruktur di sana untuk mengingatkan orangtua tentang hal ini. Namun seringkali orangtua hanya menuntut nilai baik tanpa peduli apa yang dirasakan sang anak tercinta. Anak-anak seakan hanya menjadi simbol kebanggaan dari orangtua yang tak mau repot.

Suatu kasus terjadi saat seorang anak keluar dari ruangan kursus Mathemagics dan langsung disambut orangtuanya dengan serentetan pertanyaan yang diarahkan pada instrukturnya “Bagaimana Miss, dia tidak bisa lagi ya? Dasar memang anak aneh. Ya begitu itu Miss dia ini. Kalau di rumah juga begitu. Lemot dan tak punya gairah!”.

Sang instruktur yang hilang kesadaran sesaat mengatakan “Lho dia ini anak hebat lho Bu. Tadi dia bisa menjawab semua pertanyaan dengan bagus lho!” Dan rupanya sang ibu tidak puas dengan jawaban tadi dan mengatakan “Alaa … jangan digitukan dia Miss. Nanti besar kepala. Kalau memang harus diberi PR yang banyak silakan aja Miss biar tidak malas!”

Saya tak akan membahas percakapan di atas dari teori yang muluk-muluk, cukup Anda bayangkan bagaimana perasaan Anda jika posisi Anda sebagai sang anak. Terlepas dari maksud baik si orangtua yang ingin memotivasi anaknya – mungkin orangtua si anak diperlakukan begitu juga oleh orangtuanya dan orangtuanya juga diperlakukan begitu oleh orangtuanya lagi – namun cara ini sungguh sangat melukai hati si anak. Bagaimana motivasi belajar bisa tumbuh jika tak ada penghargaan dan rasa aman untuk bertindak? Mimpi kali ye!

Terdapat hubungan yang sangat erat antara prestasi akademik dengan motivasi belajar. Dan terdapat hubungan yang sangat erat pula antara motivasi belajar dengan rasa aman dan konsep diri yang baik. Sejak saya memahami hal ini maka setiap instruktur Mathemagics diwajbkan untuk menjaga hal tersebut pada diri seorang anak. Karena itulah esensi dasar sebuah pendidikan. Memberikan bekal pengetahuan yang baik melalui sebuah proses mental dan psikologis yang benar.

Ingatlah nilai baik hanya bisa dicapai melalui belajar. Belajar bisa terjadi jika ada motivasi. Dan motivasi bisa muncul jika ada perasaan mampu dalam diri sendiri. Selanjutnya perasaan mampu dalam diri berakar dari harga diri yang sehat dan harga diri yang sehat berawal dari adanya rasa aman dan rasa diterima sebagai seorang individu yang unik.

Siapakah yang bisa membuat seorang anak merasa aman, merasa dicintai dan merasa diterima? Orangtua. Orangtua memegang peranan terbesar dalam hal ini. Memang guru dan teman juga memiliki pengaruh namun tak sebesar pengaruh orangtua. Karena interaksi anak dengan orangtuanya telah dimulai sejak bayi sebelum adanya teman-teman dan guru si anak.

Saya mendorong para orangtua melakukan introspeksi terhadap cara berkomunikasi dan bersikap pada anaknya. Dari pengalaman praktek terapi dan konseling yang saya lakukan sebagian besar permasalahan anak terjadi karena ketidaktahuanorangtua harus bersikap bagaimana kepada anaknya. Kebanyakan yang dilakukan adalah menduplikasi apa yang kita terima saat kita dulu masih kecil. Karena itu selain mendirikan Mathemagics sebagai sarana perbaikan konsep diri anak melalui pembelajaran matematika yang menyenangkan saya juga mendirikan sekolahorangtua.com sebagai sarana belajar bagi para orangtua untuk meningkatkan kemampuan sebagai orangtua maupun individu.

Semoga artikel ini memberikan wawasan baru dalam penanganan masalah belajar anak-anak tercinta kita.